Ada banyak bangsa yang tidak menggunakan bahasa miliknya sendiri. Contohnya, Amerika Serikat, Australia, Singapura, dan banyak lagi menggunakan bahasa Inggris. Beberapa bangsa juga lebih bangga menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa nasionalnya sendiri, contohnya India dan Hong Kong.
Tidak mudah memiliki suatu bahasa nasional. Sejarah telah membuktikan betapa sulitnya dapat memiliki bahasa persatuan. Salah satu negara kecil di Afrika tidak jadi mereka dan mereka berperang antarsuku karena berebut agar bahasa sukunya sendiri diangkat menjadi bahasa nasional.
Beberapa negara Barat, di antaranya Swiss memiliki 3 macam bahasa persatuan. Untuk menentukan menjadi hanya satu bahasa persatuan mereka harus berdebat panjang tanpa usai yang akhirnya tetap dibiarkan menggunakan ketiga bahasa tersebut.Beberapa negara seperti India dan Filiphina lebih suka menggunakan bahasa Inggris dan Spanyol dari pada bahasa nasionalnya, karena berasal dari suku mayoritas yang kurang disukai.
Beruntunglah Indonesia karena konflik tersebut tidak pernah di alami. Berdasarkan Esser (1930), pemakai bahasa Jawa saat itu terbesar 40%, sedangkan bahasa Sunda dan bahasa Madura masing-masing kurang lebih 10% sementara bahasa Melayu kurang dari 10%. Namun apa yang terjadi bahasa mayoritas tidak diangkat menjadi bahasa nasional, justru bahasa Melayu yang diterima .
Berbagai alasan yang agak rasional pernah disampaikan oleh Sutan Takdir Alisyahbana tentang keunggulan bahasa Melayu, di antaranya lebih sederhana, mudah dipakai, dan lebih luas wilayah pemakainya. Namun, yang lebih penting dari hal itu adalah kesediaan hati orang-orang Jawa merelakan bahasa mereka yang sudah mapan (established) sebagaimana bahasa Jepang, dan bahasa Inggris, untuk tidak menjadi bahasa nasional, demi persatuan bangsa Indonesia. Nuansa nilai tradisional 'tuna sathak bathi sanak' (rugi tidak masalah demi beruntung dalam persaudaraan) sangat kental pada para nasionalis kita waktu itu.
Karena itulah, kita harus bangga karena memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang tidak setiap bangsa memilikinya. Kita pun harus mencintainya dengan menggunakannya dalam konteks yang tepat.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap MAN Sidoarjo. Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer (ICT) merupakan terobosan yang baru di MAN Sidoarjo yaitu dimulai tahun 2004 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas..
Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.
Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :
a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMA / MA.
b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.
c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.
d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.
e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.
f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.
g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas X-1 dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)
Pada 8-14 November 2006 lalu, MAN Sidoarjo yang diwakili oleh peneliti sendiri telah memenangi .Medali Perak (Silver Prize) untuk kategori Lomba Pembuatan Media Presentasi Pembelajaran (MPP) yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersama Departemen Agama.
Berbekal pengalaman pembuatan media pembelajaran itulah, peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segara harus dibuat.
Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.
Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.
Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo“.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?
b. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?
c. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?
1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
b. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
c. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
1.4. Signifikansi Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat :
a. Bagi guru
(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi
(2) Sebagai latihan praktik langsung melalukan penelitian tindakan kelas.
(3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.
b. Bagi Siswa
(1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran
(2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami
c. Bagi Pendidikan dan Pembelajaran
Untuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.
1.5 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :
1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.
2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Media Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.
Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :
a. jenis orang (people)
b. pesan atau informasi (message),
c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan
dengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,
compact disk (CD) program atau data.
d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.
e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.
f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.
Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :
a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.
b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.
Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konket, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran, keguaan media pembelajaran adalah :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :
a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau model;
b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;
c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography.
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;
e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;
f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.
3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :
a. menimbulkan kegairahan belajar;
b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;
c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :
a. memberikan perangsang yang sama;
b. mempersamakan pengalaman;
c. menimbulkan persepsi yang sama.
2.2 Media Presentasi Pembelajaran
Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.
Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.
Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :
a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,
b. dapat melatih dengan sabar,
c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,
d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,
e. dapat melakukan simulasi,
f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,
g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,
h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolah
Menurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:
a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.
b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.
c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.
d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.
e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,
f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.
g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :
(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.
(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.
h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.
2.3 Motivasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
Macam-macam motivasi
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.
Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.
2.4 Pembelajaran Menyimak
Secara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.
Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu : (a) dengar-ulang ucap, (b) dengar tulis (dikte), (c) dengar kerjakan, (d) dengar terka, (e) memperluas kalimat, (f) menemukan benda, (g) seseorang bilang, (h) bisik berantai, (i) menyelesaikan cerita, (j) identifikasi kata kunci, (k) identifikasi kalimat topik, (l) menyingkat / merangkum, (m) parafrase, dan (n) menjawab pertanyaan.
Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu :
a. penyimak harus melibatkan diri secara total.
b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepat
c. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjang
d. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan (Tarigan, 1994 : 87-89).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.
Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapakan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.
3.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di MAN Sidoarjo dengan alamat Jl. Jenggolo (Belakang Stadion) No. 2 Sidoarjo. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas X-1.
3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa MAN Sidoarjo kelas X. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47 siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.
3.4. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu : (1). Perencanaan tindakan (planning); (2). Pelaksanaan Tindakan (action); (3). Observasi (observation); dan (4). Refleksi (reflection).
3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan Guru
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.
2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media
Tes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.
3. Tes Motivasi Siswa
Tes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.
4. Tes Kemampuan Menyimak
Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.
3.6. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.
Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.
1. Analisis Kelayakan Media
Evaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.
Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan cara
a. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :
• pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaran
Tingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :
Tingkat Kelayakan Media Rata-rata | Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5
2. Analisis Aspek Motivasi Siswa
Motivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.
Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:
a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara :
pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat motivasi siswa
Tingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :
Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5
3. Analisis Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Hasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.
Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.
SKOR | Taraf Kemampuan Ketentuan
81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi
61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhi
41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi
21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi
0 – 20 Buruk 1 unsur terpenuhi
Hasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.
BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Penyajian Data
Secara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:
• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)
Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas X-1, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :
a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisi
b. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas, dan
c. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas dengan batasan topik :
• dampak bencana Lapindo Brantas,
• bagaimana kehidupan pengungsi, dan
• upaya penanggulangannya, serta
• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.
d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.
• Refleksi Awal
Hasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas X-1 sebagai berikut:
1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.
2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :
a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,
b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perduli
c. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun telah lupa ide-ide pokoknya,
d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.
3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :
a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbeda
b. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswa
c. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi bencana
d. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.
• Rencana Tindakan 1
1. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)
2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :
a. pengantar : 5 menit
b. penjelasan awal : 5 menit
c. presentasi media pembelajaran : 45 menit
d. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30
e penutup : 5 menit
3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).
4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru
5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “SM”
• Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1)
Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :
1. Melakukan penelitian pada kelas X-4 (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)
2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.
3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.
4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara terus-menerus.
5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya penanggulangannya.
6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.
• Observasi 1
1. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.
3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.
4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :
a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layer
b. Background mestinya sama, setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.
c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.
d. Tidak ada file autorun
• Refleksi 1
1. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.
3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.
• Rencana Tindakan 2
1. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.
2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.
• Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)
Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Penelitian dilakukan pada kelas X-2 pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.
2. Peneliti memberikan pengatar materi.
3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.
5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.
• Observasi 2
1. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.
2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.
3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.
4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.
5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :
a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu : file master, file bank, dan file test.
b. File flash player perlu dimasukkan cd
• Refleksi 2 (Akhir)
1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.
2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.
3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.
4.2 Analisis Data
1. Data Aktivitas Guru dan Siswa
Data aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.
Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 4.1
Data Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran
Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %
a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%) 10x (15,62%)
e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10x (16,62%)
g. Menugasi siswa membuat catatan - 10x (16,62%)
h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
i. Mengamati siswa 18 x (33,33%) 18x (28,12%)
j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
Tabel 4.2
Data Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran
Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 % siswa % siswa
a. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%) 42 (100%)
b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%) 42 (100%)
c. Membaca buku 0 0
d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)
e. d. Menulis sesuai perintah guru 45 (100%) 42 (100%)
f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0 0
g. Menyampaikan ide / pendapat 0 0
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0
Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “SM”.
Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas X-4 yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.
Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.
Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.
Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.
2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media Pembelajaran
Penelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.
Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 4.3
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 1 (Kelas X-4)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 19 26 M. Rachmanto 19
2 Adam Lukman F 21 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 19 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 20 29 M. Agung S 18
5 Aulia Alfi Ismi I 19 30 M. Azam Zur’ain 21
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 16
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 19
8 Desi Dwi A 19 33 Nur Afifah 17
9 Dimas Dwi A 20 34 Nur Mayasari 17
10 Eka Retno O 20 35 Olvy Trismayuni 17
11 Fajar Adi P 16 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 21 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 20 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 17 39 Risca Faiqotin 19
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 20
16 Istikhomah 14 41 Rusvita Efendi 19
17 Juwita Tri Septasari 20 42 Sherly Dwi KA 19
18 Khoirun Nisak 16 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 16 44 Siti Rosyidah 17
20 Lailatul M 17 45 45. Winda S. 18
21 Lailis Savitri 16 46 Wulan Indah C 22
22 Larastika DW 21 47 Yudhi Aprianto 19
23 Luluk Nuraini M 19 Total 824
24 M. Arifuddin 18 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 19 Rata-rata 18,31
Tabel 4.4
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 2 (Kelas X-2)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 19 26 M. Syaifuddin 18
2 Ainul Latifah 23 27 M. Zainuddin 20
3 Ainur Rochmah 19 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 18 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 18 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 24
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 21 34 Nikmahatus R 17
10 Bagus Suprayogi 25 35 Nuril Hidayati 20
11 Eka Sussiani 21 36 Nurul Umami 23
12 Fadilah 20 37 R. Awaluddin Yusuf 18
13 Fathir Fathoni 19 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 19
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 24
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 18
17 Imroatul M 19 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 23 43 Ulfa Oktaviana 16
19 Izzati Choirina 23 44 Wildah Faiz PH 20
20 Khusniatur R 21 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 20 46 Zumrotus S. 19
22 Lianatus S 19 Total 826
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 20 Rata-rata 19,64
25 M. Fanani SM 21
Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya, MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.
3. Data Hasil Tes Motivasi Belajar
Tes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.
Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.
Tabel 4.5
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 1 (Kelas X-4)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 22 26 M. Rachmanto 23
2 Adam Lukman F 22 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 20 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 21 29 M. Agung S 20
5 Aulia Alfi Ismi I 24 30 M. Azam Zur’ain 23
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 23
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 20
8 Desi Dwi A 20 33 Nur Afifah 19
9 Dimas Dwi A 21 34 Nur Mayasari 22
10 Eka Retno O 21 35 Olvy Trismayuni 21
11 Fajar Adi P 19 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 22 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 21 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 19 39 Risca Faiqotin 21
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 21
16 Istikhomah 18 41 Rusvita Efendi 21
17 Juwita Tri Septasari 21 42 Sherly Dwi KA 20
18 Khoirun Nisak 20 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 18 44 Siti Rosyidah 20
20 Lailatul M 22 45 45. Winda S. 23
21 Lailis Savitri 19 46 Wulan Indah C 21
22 Larastika DW 24 47 Yudhi Aprianto 21
23 Luluk Nuraini M 21 Total 933
24 M. Arifuddin 19 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 22 Rata-rata 20,73
Tabel 4.6
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 2 (Kelas X-2)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 20 26 M. Syaifuddin 19
2 Ainul Latifah 22 27 M. Zainuddin 18
3 Ainur Rochmah 20 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 20 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 20 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 22
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 23 34 Nikmahatus R 22
10 Bagus Suprayogi 22 35 Nuril Hidayati 22
11 Eka Sussiani 20 36 Nurul Umami 24
12 Fadilah 22 37 R. Awaluddin Yusuf 19
13 Fathir Fathoni 21 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 21
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 23
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 20
17 Imroatul M 22 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 22 43 Ulfa Oktaviana 21
19 Izzati Choirina 19 44 Wildah Faiz PH 21
20 Khusniatur R 20 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 21 46 Zumrotus S. 22
22 Lianatus S 19 Total 869
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 22 Rata-rata 20,69
25 M. Fanani SM 21
Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Sementara itu dalam tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-2 rata-rata skornya 20,69.
Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.
4. Data Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Penelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas X-4 dan pada siklus 2 dilakukan pada kelas X-2.
Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.7
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Siklus 1 (Kelas X-4)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 66 26 M. Rachmanto 66
2 Adam Lukman F 86 27 M. Hardianto S 73
3 Aisyah Nurdeka 90 28 M. Irvan R 53
4 Alfiyah Nur K 73 29 M. Agung S 90
5 Aulia Alfi Ismi I 60 30 M. Azam Zur’ain 66
6 Ayu Rohmah P 73 31 Nashrulloh Ibadi 83
7 Chusnul Ch 73 32 Nita Apri Rosalina 86
8 Desi Dwi A 80 33 Nur Afifah 80
9 Dimas Dwi A 90 34 Nur Mayasari 73
10 Eka Retno O 70 35 Olvy Trismayuni 86
11 Fajar Adi P 73 36 Rani Rahmawati 66
12 Fitri Muttafaqoh 90 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 66 38 Rina Puspita Ningsih 73
14 Hindriyani R 80 39 Risca Faiqotin 90
15 Ike Oktavianis 76 40 Rizky Amelia 96
16 Istikhomah 83 41 Rusvita Efendi 63
17 Juwita Tri Septasari 73 42 Sherly Dwi KA 90
18 Khoirun Nisak 73 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 66 44 Siti Rosyidah 80
20 Lailatul M 86 45 45. Winda S. 93
21 Lailis Savitri 76 46 Wulan Indah C 86
22 Larastika DW 93 47 Yudhi Aprianto 76
23 Luluk Nuraini M 76 Total 3431
24 M. Arifuddin 90 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 70 Rata-rata 77,24
Tabel 4.8
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Siklus 2 (Kelas X-2)
No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 86 26 M. Syaifuddin 83
2 Ainul Latifah 96 27 M. Zainuddin 90
3 Ainur Rochmah 93 28 Machmud 93
4 Ali As’ad 93 29 Mita Pratiwi 100
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 100
6 Aridatul Saidah 100 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 60 32 Muthoyibatu Aw 100
8 Ayu Novieanthi 100 33 Najwa Farah S 100
9 Ayu Rizka 100 34 Nikmahatus R 100
10 Bagus Suprayogi 100 35 Nuril Hidayati 93
11 Eka Sussiani 100 36 Nurul Umami 100
12 Fadilah 100 37 R. Awaluddin Yusuf 80
13 Fathir Fathoni 100 38 Raisa Hakim 100
14 Futischatis F 86 39 Risaatul Lailiyah 100
15 Ginarti SW 90 40 Sholihatun 100
16 Iis Sugiyati 100 41 Siti Aisyah 96
17 Imroatul M 100 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 100 43 Ulfa Oktaviana 100
19 Izzati Choirina 100 44 Wildah Faiz PH 100
20 Khusniatur R 100 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 96 46 Zumrotus S. 93
22 Lianatus S 90 Total 3758
23 Lia Andriani 100 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 96 Rata-rata 89,47
25 M. Fanani SM 90
Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24. Sementara itu dalam tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-2 pada siklus 2 rata-rata skornya 89,47.
Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik, adapun kemampuan menyimak siswa kelas X-2 tergolong sangat baik.
Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.
Aspek Siklus 1 Siklus 2 Keterangan
Aktivitas Guru - membuka pembelajaran
- memberikan penjelasan
Awal - membuka pembelajaran
- memberikan penjelasan
awal - aktivitas sama
- aktivitas sama
- menugasi menyimak
terus menerus (45
menit)
- menugasi menulis 3
topik sekaligus (30
menit)
- menugasi menyimak per
topik (15 menit)
kemudian menulis (10
menit)
- perbaikan cara
- tidak menghimbau siswa
membuat catatan kecil
- menghimbau siswa
membuat catatan kecil
- perbaikan cara
- melakukan observasi
- menutup pelajaran
- melakukan observasi
- menutup pelajaran
- aktivitas sama
- aktivitas sama
Aktivitas Siswa - menerima penjelasan
Awal - menerima penjelasan
awal - aktivitas sama
- menyimak terus menerus (45
menit)
- menulis 3 topik sekaligus (30
menit) hasil simakan
- sebagian kecil siswa (20%)
membuat catatan kecil - menyimak bertahap (15 menit
menyimak dan 10 menit
menuliskannya) hingga 3
tahap
- sebagian besar siswa (88%)
membuat catatan kecil
- perbaikan cara
- perbaikan cara
MPP “SM” - space kosong di tengah
- background mestinya sama
setelah skip
- huruf statis monoton
- belum diberi autorun - space kosong di tengah sudah
diperbaiki
- membuat background sama
setelah skip
- huruf di blow effect
- diberi autorun
- perbaikan desain
media
Kelayakan MPP “SM” Skor rata-rata
18,31 Skor rata-rata
19,64 - peningkatan skor
rata-rata 1,33
Motivasi Siswa Skor rata-rata
20,73 Skor rata-rata
20,69 - perbedaan skor
rata-rata 0,04
Kemampuan Menyimak Skor rata-rata
77,24 Skor rata-rata
89,47 - peningkatan
Skor rata-rata
12,23
4.3 Interpretasi
Berdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :
(1) MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.
MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :
a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)
b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudah
baik
c. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajaran
d. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidak
membingungkan
e. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.
Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.
(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.
Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.
1. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.
2. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.
3. Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
5.2 Saran
Disamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:
1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalan belajar
2. Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya
3. Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Chandra. 2005. Menu Interaktif Flah MX 2004. Palembang : Maxiikom.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya University Press IKIP Surabaya.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Kurniawan, Yahya. 2006. Belajar Sendiri Macromedia Flash 8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik : Penelitian Tindakan. Bandung : Alfabeta.
Mudhoffir. 2001. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.
Pramono, Andi. 2001. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash 8. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.
Rachman, Saiful. dkk.. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : SIC & Dinas P dan K Provindi Jawa Timur.
Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
---------------------. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.
---------------------. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Uno, Hamzah B.. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara
Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT Remaja Roskakarya.
1. Pengantar
Konsep dasar religius berbeda dengan agama. Bila agama lebih mengacu pada keterkaitan seseorang dengan agama tertentu secara formalitas, maka religius adalah ikatan seseorang terhadap suatu religi bisa juga agama tertentu dari sisi informalnya. Seorang dapat dikatakan tidak memiliki religiusitas yang tinggi bila praktik batinnya kering terhadap suatu agama atau religi. Dalam hal ini religiusitas dapat dilihat dari ungkapan batin yang kemudian direfleksikan dalam tindakan yang terkait dengan suatu religi.
Puisi adalah salah salat genre sastra. Sebagai genre sastra, puisi merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang yang telah mengkristal (penulis lebih cenderung mengungkapkannya sebagai kristal jiwa) yang meiliki nilai estetika dan kemudian diungkapkan dalam media bahasa.
Bahasa sebagai media estetika berbeda dengan genre seni lainnya, seperti seni lukis menggunakan ungkapan komposisi goresan dan warna, seni musik menggunakan komposisi bunyi atau suara, sementara itu sastra sebagai seni menggunakan komposisi bahasa. Komposisi bahasa ini meliputi bangunan fonem / bunyi, kata-kata, frase, kalimat, bahkan wacana. Gejala-gejala bahasa, dan gaya bahasa juga diterapkan demi pencapaian estetikanya.
Sutarji Calzoum Bachri lahir pada 24 Juni 1943 di Rengat, Indragiri Hulu, Riau. Dari sajak-sajaknya Sutarji mampu menunjukkan dirinya sebagai pelopor / pembaharu puisi kontemporer. Dalam kredonya, Dia hendak membebaskan kata dari kungkungan makna dan akan mengembalikannya sebagaimana fungsi mantra.
Pada tahun 1974, Sutarji mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Dari Oktober 1974 hingga April 1975, dia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat.
Atas prestasinya Sutarji pernah mendapat penghargaan South East Asia Writer Award di Bangkok Thailad pada tahun 1979.
Beberapa karyanya adalah O (Kumpulan Puisi, 1973), Amuk (Kumpulan Puisi, 1977), dan Kapak (Kumpulan Puisi, 1979) merupakan karya monumentalnya.
Selain itu, puisi-puisinya juga dimuat dalam berbagai antologi, antara lain Arjuna in Meditation (Calcutta, India, 1976), Writing from The Word (USA), Westerly Review (Australia), Dchters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststechting, 1975), Ik Wil NogdulzendjaarLeven, Negh Moderne Indonesische Dichter (1979), Laut Biru, Langit Biru (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977), Parade Puisi Indonesia (1990), majalah Tenggara, Journal of Southeast Asean Lietrature 36 dan 37 (1997), dan Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (2002).
Puisi-puisi Sutarji merupakan puisi inkonvensional, tidak seperti hanya Amir Hamzah, Chairil Anwar, Taufiq Ismail, maupun WS Rendra. Banyak kalangan siswa dan juga guru kesulitan dalam mengapresiasinya. Permasalahannya beberapa puisi Sutarji pernah muncul dalam soal-soal ujian nasional. Hal ini menimbulkan tuntutan adanya kemampuan untuk mengapresiasi puisi-puisinya, khususnya bagi para guru bahasa Indonesia, demikian pula para siswa. Diperlukan kemampuan analisis dan apresiasi, dan tidak ketinggalan wawasan yang luas terhadap wacana puisi di Indonesia.
Banyak pendekatan maupun teori yang dapat digunakan dalam menganalisis memahami dan menganalisis puisi. Di antaranya strukturalisme (intrinsik dan ekstrinsik, lapis dalam dan lapis luar), sosiologi sastra, semiotik, pragmatisme, dan sebagainya. Khusus puisi-puisi Sutarji perlu ada pertimbangan yang berbeda karena puisinya memang memiliki karakteristik yang berbeda.
Apresiasi puisi terhadap puisi-puisi Sutarji perlu dilakukan karena beberapa kali puisinya dikeluarkan dalam soal ujian nasional. Dalam pembahasan oleh guru-guru di sekolah menengah terjadi silang pendapat karena tidak memiliki pijakan pendekatan dan teori yang tepat. Memang, apresiasi karya sastra (khususnya puisi) bisa berakibat
polyinterpretable. Hasil apresiasi setiap orang bisa berbeda.
Permasalahannya, dalam pembelajaran di sekolah hanya dibutuhkan satu kepastian jawaban dan menutup kemungkinan berbeda pendapat tergantung argumentasinya. Hal ini karena sudah tersedia pilihan jawaban dan harus dipilih satu yang paling tepat. Karena itu di sini kami mencoba menyajikan apresiasi beberapa puisi Sutarji dari aspek religiusitasnya.
Pembahasan hanya dibatasi pada kumpulan puisi "O, Amuk, Kapak" (1981). Dalam kumpulan puisi ini berserak banyak puisi karya Sutarji. Beberapa di antaranya akan dianalisis khususnya yang mewakili dalam aspek religiusnya. Pengarang bisa saja menolak serta merta hasil analisis ini, namun yang harus dipahami kembali adalah pijakan karya sastra khususnya puisi itu
polyinterpretable.
a.
Jadi 
Puisi ini bertema
pengakuan ketidakmutlakan manusia di bawah kekuasaan Tuhan. Tipografi puisi, penataan baris-baris dan kata-kata "
tidak setiap ............ jadi .........." menunjukkan relatifitas hukum keniscayaan "
jika .... maka ....." bagi manusia.
Konklusi puisi jelas terlihat pada "
memandang Kau, pada wajahku!". Sebagai sebuah simbol bahasa (
semion), kata
Kau mengacu pada "
Tuhan". Karena itu bisa diartikan "
kekuasaan Tuhan atasku".
Puisi merupakan kristal jiwa dari pengarangnya. Pengalaman hidup yang berisi ungkapan pikiran dan perasaan pengarangnya terungkap dalam kata-kata yang kemudian melalui proses seleksi dan kontemplasi jadilah puisi. Bisa jadi pengarang puisi di atas telah mengalami dalam perjalanan hidupnya dan orang lain yang akhirnya membuat pengakuan akan ketidakmutlakan diri dan usahanya dalam kekuasaan Tuhan
2. Q

Puisi di atas bila disingkat menjadi "Q : alif lam mim". Jelaslah bahwa puisi ini mengutip salah satu ayat dalam Al Quran. Beberapa ayat dalam Al Quran yang berupa huruf-huruh hijaiyah tanpa harakat, misalnya : tho ha, lam mim shod, dan lain-lain. Terjemahannya tidak ada, namun selalu ditulis tafsir hanya Allah yang tahu.
Tipografi puisi sebagaimana tertulis di atas sebagaimana pembacaan kalau qiraah. Meski kita tidak memahami arti 'alif lam mim' namun huruf-huruf tersebut dengan kata : i'lam (ketahuilah), alam (jagat raya), alama (pembelajaran), dan alim (ilmu). Ayat ini terpampang jelas pada Al Baqarah ayat pertama. Bila ditafsirkan maka kita hidup memang harus mempelajari jagat raya ini sebagai ilmu, sebagai langkah awal sebagai makhluk bernama manusia.
Puisi di atas menunjukkan bahwa Allah sengaja tidak memberitahukan maknanya secara langsung. Tampaknya Allah memberikan teka-teki kepada manusia. Dalam hal ini, Allah hanya memberikan isyarat konsonan dasarnya dan kita yang memaknainya.
Namun apa yang terjadi, kita tetap dihadapkan oleh Allah pada teka-teki maha rahasia, karena sangat terbatasnya kemampuan dan pengetahuan kita. Betapa tidak, pengetahuan kita sangat terbatas pada yang kita miliki dan ketahui. Sementara kalau kita kaitkan dengan konsep kosmologi, jagat raya ini sungguh tidak ada apa-apanya. Bulan mengelilingi bumi, bumi mengelilingi matahari, matahari bersama bintang-bintang lainnya juga beredar di galaksi Bima Sakti ini, dan milyaran galaksi juga beredar melebur menuju kehancurannya (black hole). Kita tidak tahu dari mana dan akan kemana nasib kita terbawa ratusan, ribuan, jutaan, bahkan milyaran tahun kemudian.
Karena itulah puisi di atas sebenarnya memiliki religousitas yang serius yaitu ketidaktahuan yang dalam. Karena itu bila ditanya apa makna puisi tersebut maka jawablah sebagaimana orang qiraah : Tidaaaaaaaaakkkkkk Tahuuuuuuuuu !!!!!!!!!!!!!!!!!!! Dalam bahasa Jawanya : Embuuuuuuuuuuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
maaf segera diselesaikan ....

segera diselesaikan
1. Pengantar
Karya sastra sering dinyatakan sebagai salah satu bentuk filsafat. Hal ini didasarkan atas pendapat bahwa karya sastra memiliki ide-ide yang dibungkus oleh struktur. Karena berisi filsafat maka karya sastra itu juga berisi ide-ide yang dapat menuntun manusia ke arah yang baik. Di samping itu, karya sastra dapat dianggap sebagai dokumen sejarah filsafat serta mencerminkan bentuk pemikiran jamannya. Untuk itu perlu dilakukan kajian hubungan karya sastra dan filsafatnya dengan cara mengetahui filsafat yang dirumuskan pengarang dan kejelasan serta sistematisasi filsafat itu (Wellek dan Warren, 1962:110-114).
Filsafat itu sendiri banyak definisinya. Intisarinya adalah berpikir menurut tatatertib (logika), bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma / agama), dan dengan sangat dalam sehingga sampai pada dasar persoalan (Nasution, 1987:3).
Ternyata Filsafat dalam ”Serat Ngabdul Jalil” (selanjutnya disingkat ”SNJ”) tidak memenuhi kriteria itu. ”SNJ” berisi bentuk-bentuk pemikiran yang terikat, terutama pada agama tertentu. Menurut Nasution, filsafat yang bentuknya seperti itu disebut filsafat agama, dan filsafat agama menurut The Liang Gie termasuk dalam filsafat khusus. Lebih lanjut Nasution menjelaskan bahwa filsafat agama dapat mengambil dua bentuk pemikiran. Kedua bentuk pemikiran tersebut adalah : a) membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpa terikat pada ajaran-ajaran agama, dan tidak bertujuan untuk menyatakan kebenaran suatu agama. Bentuk pemikiran ini mencoba memahami dasar-dasar agama menurut logika. Jadi, kebenaran bukan ditentukan oleh wahyu melainkan oleh akal; b) membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis dengan maksud untuk menyatakan kebenaran ajaran-ajaran agama atau sekurang-kurangnya untuk menjelaskan bahwa yang diajarkan agama tidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika.
Bentuk pemikiran yang diterapkan oleh penulis naskah ”SNJ” adalah bentuk pemikiran yang (b). Dalam hal ini penulis naskah membenarkan semua ajaran agama, yaitu agama Islam. Penulis naskah ini mengambil langkah bukan menyampaikan ayat-ayat Al Quran maupun Hadits secara langsung, melainkan membahasnya dalam bahasa Jawa. Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh penulis naskah mempunyai tujuan akhir mendekatkan diri dan mengabdikan diri pada Tuhan. Hal ini tersirat dari pengertia judul naskah ini.
Judul naskah ini ”Serat Ngabdul Jalil”. Hal ini dapat diartikan pula bahwa ”serat” adalah naskah lama (Jawa klasik) yang isinya adalah ajaran-ajaran : ’abdul’ atau ’abd’ dari bahasa Arab artinya ’abdi’ atau ’hamba’; sedangkan ’jalil’ atau ’jalal’ adalah salah satu nama Allah yang berarti Maha Berkebesaran, Mahaluhur, dan Maha Sempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Jadi, ”Serat Ngabdul Jalil” juga berarti naskah lama (Jawa klasik) yang berisi ajaran-ajaran agar dapat menjadi abdi / hamba Allah yang Maha Berkebesaran, Mahaluhur, dan Maha Sempurna dalam segala Sifat-sifat-Nya.
Menurut Nasution (1987:56) ilmu pengetahuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat-dekatnya dengan Allah SWT disebut tasawuf. Sementara itu, As Salawy berpendapat (1986:26), tasawuf itu meliputi ajaran-ajaran : a) metafisika, b) etika, c) psikologi, dan d) estetika.
Akhirnya untuk mengetahui unsur-unsur tasawuf dalam ”SNJ” kajiannya dibatasi berdasarkan pendapat As Salawy di atas.
Sebenarnya pengertian tasawuf banyak sekali berdasarkan orang-orang yang memberikan definisi. Ibnu Khaldun memberikan batasan sebagai berikut.
Tashawuf itu adalah semacam ilmu syareat yang timbul kemudian didalam agama, asalnya ialah bertekun beribadat dan memutuskan pertaliannya dengan segala selain Allah, hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan dunia serta membenci perkara-perkara yang selalu memperdaya orang banyak, kelezatan harta benda dan kemegahan, dan menyendiri menuju jalan Tuhan dalam halwat dan ibadat.
Dalam hal lain, Hamka menyatakan definisi bahwa tasawuf adalah membersihkan jiwa dari pengaruh benda atau alam supaya dia mudah menuju kepada Tuhan. Adapun Nasution menyatakan bahwa tasawuf adalah ilmu pengetehuan yang mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat berada sedekat-dekatnya dengan Allah swt. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tasawuf adalah ilmu pengetahuan, caranya dengan bertekun ibadah dan pembersihan jiwa.
Yang menjadi sumber tasawuf adalah Al-Quran da hadist. Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadist yang menguatkan adanya tasawuf. Karena itu ada yang menyatakan bahwa tasawuf merupakan salah satu cabang kajian agama Islam. Adapun ayat-ayat tersebut antara lain :
”Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imron : 13). ”Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (Al-Ahzab : 24).
”Dari Abi Hurairah beliau berkata : Rasulullah saw. Bersabda : berfirman Allah Maha Mulia dan Maha Agung. Aku adalah menurut persangkaaan hamba-Ku pada diri-Ku dan aku besertanya di kala ia menyebut asma-Ku. Apabila ia menyebut-Ku pada dirinya secara sirri, maka akupun menyebutnya dengan pahala dan rahmat secara rahasia. Andaikata ia menyebut-Ku pada suatu perkumpulan maka Aku pun akan menyebutnya pada suatu perkumpulan yang lebih baik. Dan andaikata ia mendekat pada-Ku satu elo, maka aku dekati ia sehasta. Dan jika ia datang pada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang padamu dengan cepat-cepat ( H.R. Muslim ).
Demikian pula yang terjadi dalam ”SNJ”. Ajaran-ajarannya umumnya bertolak dari dasar Al-Quran dan Hadist. Banyak sekali uraian yang dinyatakan oleh ’penulis’ yang menunjukkan ungkapan-ungkapan dan perilaku hidup bertasawuf. Adapun ajaran-ajarannya itu diuraikan berikut ini.
A. Ajaran Metafisika Metafisika berasal dari bahasa Yunani yaitu ’meta’ berarti ’sesudah’, ’di luar’ atau ’selain’, dan ’phisica’ berarti ’alam nyata’ atau ’alam maujud’. Jadi, metafisika berarti hal-hal yang di luar alam dunia (maa-ba’da thobiah) , atau sesuatu yang ada di alam supernatural.
Dalam tasawuf, ajaran metafisika adalah percaya terhadap sesuatu yang gaib dan . selalu berhubungan dengan keimanan. Dengan mengingat hal-hal yang supernatural misalnya Tuhan, Malaikat, Surga, Neraka, dan lain=lain akan bertambah mudah serta ringanlah orang Islam menjalani kehidupan religi untuk beribadah dan mendekat kepada Tuhan. Dengan mengingat kekuasaan Tuhan akan mengetahui kebesaran-Nya, dengan mengingat surga akan tertarik untuk mencapainya, dan dengan mengingat siksa neraka akan menjadikan manusia takut terjerumus ke dalamnya. Karena itu tiada jalan lain yang terbaik kecuali melaksanakan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya.
Dalam ”SNJ” hal-hal yang supernatural antara lain : Tuhan , Alam akhirat, setan, jin, iblis, hantu, ’mamang’, sukma, nyawa, dan guna-guna, serta sihir.
Tuhan memiliki nama yang banyak. Tuhan juga bernama Yang Agung artinya Yang Besar (1.3) , Yang Manon (1.5) Yang menguasai manon (jiwa), Pangeran (1.13) artinya tempat untuk bergantung, Kang Maha Mulya (1.13) artinya Yang Mahamulia, Allah (1.17) artinya Tuhan/ Allah, Widi (1.21) artinya juga Tuhan, Yang Sukma, Gusti (23) artinya Yang memiliki hati baik, Allah Maha Gung (1.71) artinya Allah Yang Mahabesar, Pangeran Maha Gung (2.5) artinya Tuhan Mahasuci, dan lain-lain. Nama-nama itu menunjukkan kebesaran-Nya. Tuhanlah yang Maha segala-galanya, Dialah Tuhan, Dialah raja, Dialah Yang Menguasai Jiwa/ Sukma, dan lain-lain.
Kekuasaan Tuhan meliputi dunia dan akhirat. Dialah yang memberi rahmat dan kemuliaan sekaligus memberi siksa baik di dunia dan akhirat (13-1.5). Dia tidak tidak terlihat oleh kedua belah mata (1.22). Dia hanya satu dan kekal serta pencipta langit dan bumi (3.26). Kekuasaan-Nya yang mutlak digambarkan dalam metafora hubungan dalang dan wayang, serta hubungan Prabu Wisesa dan rakyatnya. Dalam hal ini makhluk dilukiskan tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun. Segala sesuatu ada di dalam kekuasaan-Nya termasuk menentukan tindakan, ucapan, serta perjalanan hidup makhluk,. Jadi hanya Tuhannlah Yang Mutlak.
Kemutlakan Tuhan juga ditunjukkan oleh sifat-sifatnya. Sifat yang wajib diketahui oleh manusia (orang Islam) berjumlah dua puluh. Sifat-sifat itu adalah : 1) wujud berarti ada (6.1), Kidam berarti dahulu yang tidak didahului oleh manusia makhluk (6.2), Baqa artinya kekal (6.3), makalapah lalkawadisi berarti Allah berbeda dari segala sesuatu yang baru (6.4), Kiyamuhu binafsihi berarti Allah itu berkuasa atas segala sesuatu menurut Kehendak-Nya (6.5), Wahdaniyat berarti Allah hanya satu dan tidak berbilang (6.6), Iradat berarti Allah berkuasa membuat segala sesuatu tanpa ada yang memaksa (6.7), Ilmu berarti Allah Maha Mengetahui dan tidak mungkin Tuhan bodoh (6.8), Hayat berati Allah itu hidup dan tidak mungkin Allah itu (bisa) mati meskipun tanpa nyawa (6.8), Samak berarti Allah Maha Mendengar dan tidak tuli meskipun tanpa telinga (6.9), Basar berarti Allah Maha Melihat dan tidak buta meskipun tanpa mata (6.10), Kalam berarti Allah Maha Berbicara dan tidak mungkin bisu (6.11), Kadiran berarti Allah berkuasa membuat alam beserta isinya dan tidak mungkin sial (6.11), Muridan berarti Allah yang memiliki ide membuat alam beserta isinya dan tidak mungkin diminta oleh yang lain (6.12), Aliman berarti Allah itu Maha Mengetahui lahir dan batin (6.13), Hayan berarti Allah itu hidup dan tidak mati meskipun tanpa nyawa (6.14), Samian berarti Allah Maha Mendengar` dan tidak tuli (6.14-15), Basiran berarti Allah Maha Melihat dan tidak buta meskipun tanpa mata (6.15), Mutakaliman berarti Allah itu berbicara meskipun tanpa lisan maupun tulisan dan Allah itu tidak mungkin bisu (6.16).
Ajaran metafisika tentang Tuhan dalam ”SNJ” nampak selaki bertolak dari dogma-dogma yang ada dalam agama Islam. Kebenaran yang diberikan adalah kebenaran yang taklid. Kebenaran itu menyatakan bahwabapa yang terdapat dalam dogma-dogma yaitu ayat-ayat Tuhan selalu benar. Tuhan tidak mungkin salah karena diakui bahwa Tuhan Mahabenar. Manusia tidak perlu berfikir lagi tentang Zat Tuhan karena manusia tidak akan mampu. Berfilsafat tentang Tuhan apabila keliru dapat terjerumus ke dalam
Banyak sekali ayat-ayat yang menyatakan kebenaran dan kemutlakan Kekuasaan-Nya. Hal ini dinyatakan terutama dalam nama-nama-Nya Yangagung. Manusia hanyalah sesuatuyang tidak berdaya di bawah kosmos yang diciptakan-Nya. Tuhan tetap jadi misteri yang tak terhingga. Tuhan nampak ’transendent’ artinya manusia dengat sangat tidak sempurna menangkap kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia menyatakan Dia adalah Pribadi Yang Maha Sempurna. Tuhan bersifat ’infinit’ atau tidak terbatas.
Ajaran yang berhubungan dengan supernatural adalah keberadaan alam akhirat. Alam akhirat itu bersifat gaib bukan bersifat lahir (dzahir) seperti alam dunia. Alam akhirat meliputi surga dan neraka. Kedua tempat itu disediakan oleh Tuhan untuk manusia sebagai balasan amal perbuatan mereka ketika hidup di alam dunia. Surga disediakan oleh Tuhan untuk manusia yang memiliki amal perbuatan baik di dunia, sedangkan neraka disediakan untuk manusia yang memiliki amal perbuatan yang buruk. (12.11-12). Neraka adalah tempat hukuman berupa api (1.62) untuk setan (13.8) serta orang alim yang tidak mufakat dengan ilmunya serta orang munafik (14.14) juga orang-orang kafir (13.15).
Yang diuraikan penulis di atas juga bertolak dari dogma-dogma agama Islam. Hal ini terlihat dari ayat-ayat Al-Quran berikut ini.
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah keberuntungan yang besar“ (Al-Buruj : 11).
"Ya, barangsiapa mengerjakan kejahatan dan telah meliputi kesalahan itu, maka mereka itu penhuni neraka, sedangkan mereka kekal di dalamnya“ (Al-Baqarah : 11).
"Tetapi mereka mendustakan hari kiamat, dan kami sediakan api yang menyala-nyala untuk orang yangmendustakan hari kiamat itu“ (Al-Furqon : 11). Di samping itu banyak sekali ayat-ayat selain di atas yang berhubungan dengan masalah surga dan neraka yang diuraaikan oleh penulis naskah.
Makhluk-makhluk supernatural yang disebutkan dalam ”SNJ” adalah setan, jin (13.27), iblis (7.16), ’mamang’ (10.14) yang merupakan makhluk supernatural yang jahat. Di samping itu disebutkan pula sukma, nyawa (11.7) yang merupakan esensi penting untuk kehidupan makhluk (manusia) dan guna-guna, serta sihir adalah kekuatan yang bersifat destruktif yang dapat diadakan oleh manusia dengan tujuan jahat. Hanya itu yang dinyatakan oleh penulis.
Di dalam Al-Quran dijelaskan antara lain bahwa setan itu musuh Adam (manusia) karena membisikkan pikiran jahat menyesatkan manusia dengan janji-janjinya, dan mengalangi manusia untuk berbuat kebajikan. Dijelaskan pula bahwa setan dikutuk oleh Tuhan karena keangkuhannya, diciptakan dari api, diusir dari surga dan diberi kesempatan oleh Tuhan sampai pada masa yang ditentukan untuk disiksa di ’ dalam neraka.Sedangkan iblis adalah setn yang pertama, tindakannya seperti setan yang telah diuraikan dia atas. Diapun akan mendapat siksa yang paling berat karena sumber malapetaka. Jin adalah makhluk supranatural yang juga memiliki sifat-sifat hanpir sama dengan setan, namun diantara mereka ada yang bertakwa kepada Tuhan dan menyatakan Islam. Adapun ’ mamang ’ tidak dikenal dalam Al-Qur’an melainkan hanya dikenal dalam folklore sebagai nama sejenis hantu yang menyala seperti api.
Sukma atau nyawa artinya sama dengan ruh. Dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa ruh adalah esensi manusia. Apabila manusia meninggal ruhnya akan kembali kepada Tuhan. Dinyatakan pula bahwa ruh termasuk kekuasaan Tuhan, ruh juga berarti malaikat, ruh dapat berangsur-angsur dewasa sesuai dengan perkembangan jasmani, dan ruh dapat masuk ke dalam.
Dalam Al Quran terdapat pula ayat-ayat yang menyatakan keburukan-keburukan sihir (mantera) . Perbuatan sihir tidak dibenarkan karena berasal dari ajaran setan (Al-Baqarah : 102).
B. Ajaran Etika Bakry menyatakan bahwa etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan melihat pada amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui akal pikiran ( As Salawy, 1986 : 28) . Dalam hal ini tolok ukur etika adalah akal manusia. Tetapi Drijakara (1978 : 40) menyatakan bahwa dasar dan tujuan etika adalah Ketuhanan, karena tanpa Ketuhanan tidak mungkin ada etika yang berkembang betul-betul. Di samping itu, Tuhan telah menyatakan firman-firman-Nya. Firman-firman itu bila sudah menjadi persepsi manusia akan selalu muncul dalam suara batin manusia. Karena firman-firman itu, manusia menyadari adanya simpulan perintah (imperatif kategoris) yang wajib harus dijalani. Kesadaran terhadap wajib itulah yang menjadikan manusia mau bersusila atau tidak. Dalam hal ini manusia dapat memilih ’ menjalani ’ atau ’memperoleh keburukan’ ,’bahagia’ atau ’sengsara’ , dan ’melawan Tuhan’ atau ’mematuhi-Nya’).
Ajaran etika dan tasawuf sangat erat sekali . Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al Kattani bahwa tasawuf adalah budi pekerti ; barangsiapa yang menyiapkan bekal dirimu dalam tasawuf (As Salawy, 1986:33) . Jadi , dapat dinyatakan di sini dengan menjalani budi pekerti (yang baik) manusia sudah memiliki bakal dalam tasawuf.
Yang menjadi tolok ukur baik buruk dalam tasawuf bukan akal manusia atau nilai masyarakat melainkan hukum syarak. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Al Ghazali berikut ini.
Adapun budi pekerti yang baik itu dapat dicapai dengan cara menghilangkan semua adat dan kebiasaan buruk, yang telah diperkenalkan dengan jelas satu persatunya oleh syarat, dan menjauhkannya dengan membencinya , sebagaimana seorang menjauhkan dirinya dari segala macam barang yang kotor , di samping ia berusaha dengan sungguh-sungguh membiasakan adat kebiasaan yang baik, sehingga memberi bekas kepada jiwanya dan kemudian barulah ia merasakan nikmat dan kesenangan daripada daripada hasil usahanya itu).
Selanjutnya Imam Sughrowardi ( salah seorang tokoh sufi ) menyatakan pula sebagai berikut.
’’Memperbaiki budi pekerti itu tak akan tercapai kecuali setelah membersihkan jiwa. Sedangkan cara untuk membersihkan jiwa adalah tunduk ( patuh ) terhadap tatacara ( ketentuan syarak ’’ 53 ) .
Adapun yang dimaksud syarak adalah syariat, dan syariat itu adalah aturan-aturan atau undang-undang ( sesuatu yang telah dibuat undang-undang) oleh Allah buat hambanya baik berupa peraturan atau hukum. Hukum itu meliputi soal-soal wajib, sunah, haram, makruh, dan mubah. Jadi , hukum syarak itu berhubungan perintah-perintah dan larangan-larangan agama, termasuk di dalamnya amalan-amalan lahir seperti shalat, puasa, zakat, haji, jihad fisabillah, hukum-hukum ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain 54 ).
Dalam ’’SNJ’’ banyak sekali ajaran-ajaran etika yang disampaikan. Ajaran-ajaran itu berdasarkan urutan penyampaian penulis naskah sebagai berikut.
1). Sasaran sopan santun
Sasaran sopan dinyatakan dalam ”SNJ” sebagai berikut.
ngajinya tata lan titi ,kelawan hing tata krama ,handhap hasor hing tanduka ,marang wong tuwa kaliyan ,hing bapa lan biyang ,kaping tiga lawan guru ,kaping patte maratuwa . (1.2) Sasaran sopan santun pertama tidak diebutkan . Sasaran sopan santun kedua adalah orang tua, ketiga adalah guru, dan keempat adalah mertua . Mengapa demikian ? Penukis naskah hanya menjawab karena orang tualah yang sangat berjasa kepada anaknya. Lalu sasaran sopan santun pertama kemana ?
Dalam hal ini penulis naskah tidak menjawabnya secara langsung dan eksplisit. Tetapi bila meluhat judul naskah ini dan judul itu merupakan cermin apa yang dijelaskan dalam naskah , maka sasaran sopan santun pertama adalah Allah atau Tuhan.
2).Tatakrama Mencari Ilmu
Tatakrama mencari ilmu itu meliputi : 1) mengabdi guru yang menuju akhirat, 2) menuruti perintah guru yang sesuai dengan syarak, 3) jangan mencela guru, 4) jangan mengabaikan guru justru perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, 5) jangan merintangi guru tetapi utamakan dia, 6) bertanyalah dengan halus bila ada masalah yang belum jelas, 7) hendaklah sering mengurangi makan supaya hati terang dan lekas mengerti. (1.27-1.33).
3). Syariat
Syariat adalah perabot yang diperlukan oleh orang yang berjalan menuju Allah, yang meliputi : 1) syahadat, 2) shalat, 3) zakat, 4) puasa, 5) naik haji, 6) mencari yang halal dengan pedoman syarak, dan 7) mencari kawan yang baik. Dalam menjalani syariat ini, seseorang harus mencegah segala perbuatan maksiat, misalnya : mencuri, menyamun,mabuk, menipu,berzina, berjudi, dan bergunjing (1.42-1.50).
4). Tarekat
Tarekat adalah jalan orang menuju Allah. Jalan itu meliputi : 1) bertobat, yaitu bertobat kepada Allah dengan cara istigfar, dan bertobat kepada sesama manusia dengan cara meminta maaf atau mengganti kerugian bila memang merugikan orang lain; 2) bertapa, artinya mengabaikan keduniawian dan hanya mengharap sekedarnya sebagai bekal ibadah; 3) hati kunanah, artinya menerima nikmat Allah apa adanya tanpa menuntut; 4) tawakal, artinya pasrah kepada Tuhan seperti mayat; 5) hati sabar, artinya menjaga hati agar tidak bersedih dalam berbakti kepada Allah; 6) hati syukur, artinya mengetahui bahwa segala nikmat itu datang dari Allah, karena itu harus bersyukur; dan 7) hati ikhlas, artinya segala amal perbuatan hendaknya diniatkan untuk berbakti kepada Allah saja, bukan berniat ingin mencapai surga atau takut neraka serta mencari harta (1.51-1.62).
Agar cepat sampai jalannya kepada Allah, seseorang harus mencegah tujuh bab. Ketujuh bab itu adalah : 1) sifat ujub, artinya menyombongkan diri bahwa segala nikmat bukan karena Allah tetapi karena usahanya sendiri; 2) mencegah riya, riya ialah berusaha agar ibadahnya dipuji orang lain. 3) mencegah takabur. Takabur ialah menganggap diri sendiri paling unggul dari sesamanya. 4) Mencegah sumah. Sumah ialah berharap agar orang lain mendengar amal perbuatan yang dilakukannya. 5) Mencegah tamak. Tamak ialah sangat berambisi dalam mencari harta. 6) Mencegah bakhil. Bakhil ialah sifat kikir. 7) Mencegah hasud. Hasud ialah tidak senang bila ada orang lain berbahagaia, dan berusaha agar orang lain menderita (1.64-1.72).
5). Hakekat
Hakekat adalah perjumpaan manusia dengan Tuhan. Dalam hal ini manusia melihat Tuhan dan Tuhan melihat manusia, meskipun Tuhan tidak berwujud atau berwarna serta berupa apa pun. Agar manusia dapat selalu melihat Tuhan maka jangan tinggalkan syareat maupun tarekat (1.73-1.75).
6). Obat Sakit Hati
Obat sakit hati itu ada lima macam, yaitu : 1) membaca Al-aquran dan menghayati maknanya, 2) mengurangi makan agar hati menjadi terang, 3) berjaga pada malam hari untuk tafakur kepada Allah, 4) mencegah hawa nafsu, dan 5) memuji Allah menurut aliran nafas (2.17-2.18).
7). Ciri-ciri Orang Alim
Ciri-ciri orang alim adalah : 1) mencegah hawa nafsu yang meliputi mencegah keinginan, menyingkirkan yang haram, mencegah maksiat dan menjalankan segala sesuatu yang wajib dan sunah; 2) sangat senang melakukan ibadah kepada Allah baik siang maupun malam hari tanpa berkeinginan dipuji orang lain, 3) tidak memikirkan keduniawian agar orang lain tidak benci, dan 4) selalu mengajak untuk berbuat baik, serta menganjurkan untuk tidak berbuat buruk (2.35-2.46).
8). Pepali Ki Ageng Sela
Pepali Ki Ageng Sela merupakan ajaran etika yang sangat kompleks. Banyak sekali anjuran-anjuran untuk melakukan perbuatan baik atau larangan-larangan melakukan perbuatan buruk. Ajaran-ajaran etika itu antara lain : jangan angkuh, jangan sombong, jangan jahil, jangan serakah,jangan suka barang milik orang lain, jangan suyka dipuji, jangan berfikiran ke kiri (buruk), berbicaralah dengan hati-hati, jangan mengagungkan tubuh, jangan menonjolkan ketampanan, justru berbuatlah yang baik, baik lahir maupun batin (7.1-7.3).
Di samping itu dinyatakan pula jangan menuhankan besi, emas, kepandaian, ilmu, mantra, kemampuan, dan lain-lain karena semua itu sia-sia. Jujur dan kebenaran hendaknya dicari. Jangan berbuat semaunya, bahagiakanlah orang lain. Jangan menuruti nafsu. Peringatkanlah orang lain yang akan berbuat tidak baik. Berbicaralah yang baik dan milikilah rasa malu, yaitu malu terhadap Tuhan, dan malu kepada sesama manusia. Karena itu berhati-hatilah di dalam bertindak (7.4-7.11).
Jangan mentang-mentang menjadi orang kaya. Jangan mengajak bertengkar. Jangan memuja kepandaian. Jangan menhancurkan orang lain. Jangan bergunjing. Siapa yang berbuat buruk akan masuk neraka, sedangkan yang baik akan mendapat kebahagiaan. Jangan ketus., jangan sombong, jangan jahil, dan jangan lalai. Berwataklah yang menyelamatkan dengan meniru orang utama dan baik, mengajak selamat, berhati-hati, dan bertoleransi. Jangan merasa diri paling berani, suka barang milik orang lain, dan suka mendatangi dukun. Jangan membungakan uang. Jangan berbudi kaum, yaitu watak senang mengurangi hasil zakat.Jangan serakah, jangan berwatak seperti iblis (7.11-7.16).
Kalau jadi pembesar berucaplah yang baik terhadap orang lain, jangan suka mencela, jangan bengis, dan berlakulah hati-hati dengan cara mencegah nafsu dan berpuasa ‚mutih’. Berbaiklah kepada sanak famili. Jangan merasa paling lurus, jangan memalukan. Jangan mengumbar nafsu. Jangan mempermalukan orang lain. Lakukanlah ’banting raga’ dengan mencegah makan dan tidur di tempat sepi dengan sabar agar terlaksana segala hajat dan mendapat wahyu dari Tuhan, ucapannya pasti terjadi, terang hatinya, dan banyak orang yang senang (7.16-7.21).
Lakukanlah hidup utama yaitu hidup orang-orang yang luhur derajatnya hasil-hasil bertapa dan bukan karena mengejar keduniawian. Karena itu lakukanlah miskin di dalam kaya, sakit di dalam sembuh, dan enak di dalam sengsara. Jangan marah apabila ditertawakan dan bersifatlah ’nrima’ kepada Allah, pasti Allah akan mengasihi. Bersungguh-sungguhlah dalam bertekad (7.21-7.29).
Ada lagi jalan utama : bersedekalah sandang dan pangan dengan rela lahir dan batin, jangan sakit hati karenanya, dan jangan minta balasan. Anggaplah semua amalan itu seperti membuang kotoran; itulah derma yang diterima. Dalam hidup tapa contohlah perilaku utama, jangan bertindak ke kiri, menjadi atau senang kepada dukun, karena dapat berakibat maut. Hal itu terjadi karena masih memikirkan kepentingan diri sendiri (duniawi) dan bertindak tidak jujur. Karena itu tindakan yang diterima oleh Allah adalah jangan terlalu banyak tingkah. Di samping itu perhatikanlah salat sejati, yaitu salat yang juga menjalani tapa. Sebabnya banyak orang yang keliru dalam bersuci. Mereka bersuci tetapi masih mengandung tahi, sembahyang tetapi mengandung bangkai (7.30-7.32).
9). Macam-macam Setan
Setan itu ada 12 macam, yaitu : 1) pendeta cinta wanita dengan cara berzina dan bertindak semena-mena, 2) orang yang makan barang haram, 3) orang yang tidak mau berbakti, 4) orang yang berani kepada ayah dan ibu, 5) orang yang suka merusak teman, 6) orang yang suka bertengkar, 7) orang senang mengadu domba, 8) wanita yang mendapat murka Tuhan, 9) orang yang menyia-nyiakan orang alim, 10) orang yang tidak tahu cara mensucikan dirinya, 11) orang yang berambisi memburu harta, dan 12) orang yang jahil, mengadu-adu, memfitnah tetangga, merusak sesamanya, mengunggulkan dirinya, akhirnya mendapatkan murka Tuhan. (7.33-7.39)
10). Faedah Mencegah Nafsu
Faedah mencegah nafsu adalah : 1) tidak tamak dalam mencari rejeki, 2) ikhlas hatinya, 3) berhasil hajatnya kepada Tuhan, dan 4) selamat badannya (13.5).
11) Akibat Mengumbar Nafsu
Akibat mengumbar nafsu adalah : 1) tamak dalam mencari rejeki, 2) tidak ikhlas berbakti, 3) hajatnya tidak terlaksana, dan 4) cepat rusak badannya (13.6)
12) Faedah Bertapa
Faedah bertapa adalah : 1) hati menjadi terang sehingga mengetahui hal-hal yang gaib, 2) mengetahui hakekat dunia, 3) hati mau kunanah, 4) sabar ketika fakir, tidak mau berhutang atau meminta-minta, 5) enak badan dan hatinya, 6) hajanya terkabulkan oleh Tuhan (13.19).
13) Akibat Menuruti Hawa Nafsu
Akibat menuruti hawa nafsu adalah: 1) gelap hatinya dan tidak mengetahui lahir batinnya, 2) tidak tahu hakekat dunia, 3) hati tidak mau kunanah, 4) tidak sabar ketika fakir, 5) tidak mantap hatinya dan badannya cepat rusak, dan 6) tidak terlaksana hajatnya pada Tuhan (13.20-13.22).
14) Faedah Mengurangi Makan
Faedah mengurangi makan adalah : 1) hatinya menjadi terang, 2) ikhlas beribadah, 3) ringan rasa badannya dan bersungguh-sungguh beribadah, 4) sedikit syahwatnya, 5) hati tidak mau lacut, takabur, riya, dan 6) hati mau kunanah (13.23-13.24).
15) Akibat Terlalu Banyak Makan
Akibat terlalu banyak makan ada 6, yaitu : 1) hatinya gelap, mengetahui lahir tetapi batinnya gelap, 2) hatinya keras, 3) malu beribadah, banyak tidurnya, dan tidak mau salat malam, 4) syahwatnya bertambah, 5) hatinya lacut, takabur, dan riya, serta 6) sangat berambisi mencari harta. (13.25-13.26).
16) Faedah Mengurangi Makan
Faedah mengurangi makan itu ada 6, yaitu : 1) hatinya terang lahir dan batin, 2) jauh dari bahaya setan, jin, maupun manusia, 3) hati jauh dari maksiyat, 4) makannya sedikit, 5) bila bicara tidak menipu dan lacut, 6) tercapai hajatnya kepada Tuhan (13.27-13.28).
17) Pesan Orang-orang Utama
Orang-orang utama mengatakan bila dapat mengurangi tidur dan makan akan dekat kekuasaannya, jauh dari guna-guna dan sihir, jauh dari celaka, selamat badannya, dan terlaksana hajatnya kepada Allah (13.29).
18) Pesan Putra Ahmad Rifai
Janganlah melanggar syarak (syariah). Lakukan perbuatan baik sesuai dengan syarak agar tidak dikecam ulama di dunia, dan dihukum Allah di akhirat. Di samping itu, jangan mengaku orang alim sebelum lulus semua pengetahuan yaitu dari Al Quran, Hadits, Ijmak, dan Qiyas, sebab akan memalukan bila diketahui orang lain. Bila memang sudah selesai dalam ilmu tersebut, hendaklah mau mengajarkannya dengan niat hanya berbakti kepada-Nya tanpa memikirkan keduniawian, tetapi jangan menghancurkan diri sendiri. Orang alim yang masih melaksanakan perbuatan yang tidak baik akan disiksa setelah siksa orang-orang kafir. Karena itu takutlah kepada Tuhan dengan cara melaksanakan ibadah terus-menerus siang malam. Carilah teladan-teladan yang baik dan cara-cara ibadah yang benar (14.1-14.16).
19) Pesan-pesan Penulis Naskah
Berbaktilah kepada orang lain. Ucapkanlah yang baik-baik, jauhi perkataan jelek. Bila ada orang lain yang akan berbuat jahat, maka tinggalkanlah karena hal itu akan berbahaya. Bila dia memang tidak mau mengubah sikap, jangan berkumpul dengannya. Namun, bila dia sudah mau bersikap baik. Maka kumpulilah dia. Di samping itu, jauhilah perbuatan buruk. Ingatkanlah kawan agar selalu berbuat baik. Dalam beribadah, orang awam memang perlu mengharapkan anugrah dari Allah (14.17-14.22).
Nafkahilah isterimu, jauhilah perbuatan haram, dan hidup rukunlah dalam bersuami isteri. Bila memelihara ternak, unggas, rawatlah dengan baik. Berbaktilah kepada ayah dan ibu, terutama bila mereka sudah tua dan fakir. Berbaiktilah kepada mertua dan saudara tua. Berbaktilah kepada guru, sebab berbaikti kepada orang tua dan guru adalah perintah Allah, sedangkan guru adalah orang yang menunjukkan ilmu dan ibadah kepada Tuhan yang tidak akan rusak dan dibawa ke akhirat. Dalam melaksanakannya hendaklah bersungguh-sungguh dan jangan ragu-ragu supaya diterima oleh Allah (14.23-14.31).
Di samping itu hargailah tamumu, temuilah dia, jamulah dia, berbicaralah yang baik padanya serta jangan menyusahkannya. Bila ada orang minta-minta berilahs sekedarnya dengan rela. Pinjamilah orang lain yang membutuhkan pinjaman dengan rela tanpa mengharapkan pujian. Bersilaturahmilah pada para ulama, dan carilah berkahnya, serta jangan mendekati orang jail, dan angkara murka. Bersilaturahmilah kepada sanak famili, tolong-menolonglah kepada sesama, kalau ada kesusahan atau kematian dengan rela, sabar, dan pasrah. Bila berkumpul orang banyak berbicaralah dengan baik, jangan berolok-olok, jangan membuka keburukan orang lain, jangan terlalu banyak berbicara. Didiklah anakmu agar mengerti ibad